PERJALANAN BELUM BERAKHIR

PERJALANAN BELUM BERAKHIR

Kepada bapak/ibu dosen yang saya hormati, teman-teman seperjuangan yang saya cintai dan sayangi.

Saya ingin cerita sedikit saat pertama kali saya datang di kampus, saya bingung dan tak tahu mau ambil jurusan apa. Maklumlah saya seorang remaja yang masih asyik dengan hura-hura. Di saat yang sama, harus menata langkah lebih sempurna. Pasti tak beda jauh dengan teman-teman.

Baru kemarin air mata menetes waktu cium tangan guru-guru saya di sekolah,  dan sekarang telah berada di gerbang kampus. Memang, saya datang untuk menyempurnakan mimpi yang masih berserakan. Saya ingin gapai pelangi di kejauhan untuk sematkan spektrumnya di hadapan kedua orang tuaku.

Jiwa terus bergejolak, banyak tanya di hati yang belum terjawab. Apa itu kuliah? Di pikiran saya kalau kampus itu pasti hanya belajar dan belajar.
Bertemu teman-teman dari berbagai daerah, saya anak dungu yang setiap hari makan singkong dan papeda. Di kampung itu sudah biasa, dikelilingi hutan dan luatan.

Di kampus saya bertemu para dosen, mereka ganteng dan cantik. Mereka mengajari saya dengan teman-teman apa yang harus kami tahu yaitu ilmu yang berguna. Buat tugas dan sebagainya. Kalau tugas yang saya ingat dari pak Anwar ketika beliau menyuruh buat makalah kemudian dipresentasikan. Kemudian ada game di kelas. Itu yang menarik. ………..Kalau pak Asrul, beliau orangnya. humoris, di setiap perkuliahan pasti ada yang lucu. Ibarat kita mendengar stand up komedi. Tapi banyak nasihat yang diberikan dan satu yang paling saya ingat yaitu, “jangan kita menyerah saat kita kesulitan, tapi kita belajar dari kesulitan untuk giat berkarya”. Beliau tepat waktu saat datang mengajar, terkadang beliau hanya berhadapan dengan kursi kosong sambil menunggu kami yang masih sibuk berdandan di depan cermin.
Klo Pak Ipul orangnya tegas, kami takut klo beliau marah, tapi asyik diajak berdialog. Bagaimana dengan Ibu Kaprodi? Beliau kadang lembut kadang keras, tapi sangat mempermudah kami dalam penyusunan proposal hingga skripsi.

Tugas yang diberikan para dosen bagaikan gelombang yang datang silih berganti, belum lagi yang marah-marah serasa jantung lepas bak buah yang belum matang pada waktunya

Terkait dengan dukungan orang tua, saya ibaratkan sebagai suluh yang tak pernah padam, terkadang saya berbohong kpd orang tua, misalnya pinjam uang,
Printer rusak ada printer atau laptop bermasalah. Itu sangat tidak baik dan menjadi duri dalam daging. Paling saya tak bisa lupa saat makan apa adanya, kadang tdk makan, baik di kosan maupun di kampus.

Saya pernah buat air mata ibu menetes,….
Saya pun pernah membuat ayah terbebani dengan segala kemauan yang tidak lazim hingga beliau jatuh sakit. Kemauan yang berlebihan menambah racun di tubuhnya.

Teringat pula saat ibuku menangis hanya karena mendengar aku sakit. Saya tahu di benaknya tersimpan harapan besar untuk bisa melihat saya sukses nanti. Harapan itu tertanam kuat di memorinya hingga itu menjadi beban yang sulit diobati.

Tak beda jauh dengan ayahku yang harus bergelut dengan waktu, siang malam bertarung nyawa hanya ingin mendapatkan selembar rupiah. Saya tahu, ia ingin saya sukses selagi usianya belum uzur agar kebahagiaan bisa terasa sempurna. Saya ingat pesannya, “Nak, kalau kuliah harus tekun, karena ketekunan adalah kunci keberhasilan”, dan masih banyak wejangannya yang tak akan sirna ditelan waktu.

Kini, segala penderitaan dan pengorbanan itu berakhir berganti kegirangan.  Kesuksesan hari ini adalah sebuah kesuksesan yg kecil menuju pada sebuah kesuksesan besar dengan tantangan yg lebih dasyat lagi.
Terima kasih orang tuaku, terima kasih guru-guruku, terima kasih teman2 seperjuangan yang selama ini kita saling membantu dalam segala hal, saya sadari di tengah perjalanan ada kerikil yang mengganjal, tapi itu adalah  bumbu penyedap untuk menyempurnakan langkah, yaitu tekad menggapai bintang, yang kilauannya kini kami rasakan.

Sekali lagi, mewakili teman-teman, saya ingin sampaikan bahwa, bukan perpisahan yg  kami tangisi tapi pertemuan yg indah inilah kami sadari hanya akan terjadi sekali dalam hidup.
Sambil menghitung hari, menit hingga detik,  gelar sarjana akan kami raih, saya yakin ini bukan akhir dari sebuah perjuangan, tapi awal dari sebuah pengabdian. Terima kasih dosen-dosen sebagai guru terbaik kami. Semoga dilimpahkan segala nikmat dan keberkahan. Terima kasih untuk yang ke sekian kalinya kepada teman-teman seperjuangan yang selama ini mengarungi lautan yang bergelombang dan gelombang itu terlewati. Saatnya kita berlabu di dermaga kebahagiaan yaitu kesuksesan terindah bahkan tersakral. Kami sadar,  walaupun sebagian dari kami tenggelam di tengah badai namun kami yakin mereka adalah pejuang sejati.
Terima kasih sangat kepada Pak Asrul yang mendengar keluh kesah kami dan mau menulis sebuah perjalanan singkat dalam lembaran yang saya baca ini. Semoga sukses selalu.
Guru yang baik bukan guru yang sempurna, tapi guru yang baik adalah guru yang memberikan kebahagian kepada anak didiknya.

Terima kasih atas bimbingan dan ilmunya yang bermanfaat, amal kalian akan terus mengalir seiring dengan bermanfaatnya ilmu yang  diberikan.
Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa meridhai segala perjuangan kita.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *